4.27.2009

ROMEO JULIET - A Three In One Movie



Sutradara Andi Bachtiar Yusuf sukses mempersembahkan film ke-3 yang diputar perdana / premiere untuk undangan pada tanggal 18 April 2009 di Studio 21 Blok M Plaza. Film yang berjudul Romeo Juliet ini dibintangi oleh Alex Komang, Nani Wijaya, Edo Borne, Sissy Priscilla, dan Ramon Y. Tungka. Tema film ini menarik perhatian publik karena mengisahkan perseteruan antar kelompok supporter sepakbola terbesar dari Jakarta dan Bandung yaitu Jakmania dan Viking. Secara mudah hal ini dikenali dari berbagai atribut yang dikenakan oleh para pemain film ini namun tidak menggambarkan kebijakan organisasi masing-masing. Pemutaran perdana film tersebut dilakukan di studio 1 dan 6 dan dipenuhi para penonton baik dari kalangan sepakbola, pengamat film dan pers. Beberapa crew dari TV nasional dan berlangganan terlihat sibuk mewancarai sutradara film ini sebelum penayangan.
Film pertama dan kedua karya sutradara Andi Bachtiar Yusuf masih merupakan film dokumenter dengan judul The Jak. Kebetulan saya juga sempat menyaksikannya di Bioskop Blitz Grand Indonesia meski saat itu sepi penonton karena sebelumnya film tersebut sudah pernah ditayangkan untuk umum di Gedung Kementrian Seni dan Budaya Jakarta Pusat. Keingintahuan itu berlanjut dengan mengoleksi VCD film The Jak dan The Conductors yang direlease tahun 2007 dan 2008.

Pada akhir tahun lalu, saya pernah menyaksikan pengambilan gambarnya di Stadion Lebak Bulus, dan teman-teman pendukung Persija yang hadir merayakan ulang tahun Persija ke-80 lalu juga sempat menyaksikan cuplikannya. Dari sinilah kemudian saya melihat adanya ide yang bagus dalam film ini meski harus jujur bahwa penggunaan teknologi perfilman disini masih terbatas. Besarnya kesempatan melakukan improvisasi kepada para pemain film ini untuk berdialog secara spontan membuat film ini menjadi hidup. Hal yang tidak mudah tentunya dilakukan bagi pemain film yang tidak sepenuhnya menjiwai kehidupan supporter sepakbola.

Saya berkesempatan menyaksikan penayangan perdana film Romeo Juliet bersama istri. Berdasarkan judul film tersebut, saya punya ekspektasi akan ada kisah cinta romantis. Mengajak istri juga membantu saya untuk mendiskusikan cerita film tersebut dari perspektif yang berbeda yaitu orang yang awam tentang perseteruan antar supporter sepakbola. Harapannya film ini tidak hanya disaksikan oleh insan sepakbola nasional tapi juga masyarakat umum yang jarang bersentuhan dengan perkembangan dunia supporter sepakbola nasional.

Dialog dalam film ini dilakukan dalam 2 bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Sunda pada masing-masing kelompok supporter sementara bagi penonton asing juga dapat mengikuti cerita film ini karena terdapat text berbahasa Inggris. Terkait dengan judul artikel diatas, saya yakin ada penonton yang merasa puas menyaksikan film tersebut karena tidak hanya mendapatkan cerita tentang cinta Rangga dan Desi tetapi juga 2 hal lain yaitu kekerasan dan komedi. Namun mungkin juga ada yang kecewa karena kadar kisah cinta dalam film ini sangat sedikit dibandingkan adegan kekerasan.

Proses cinta Rangga dan Desi sangat disederhanakan sehingga agak tidak logis saat mereka dengan cepat saling tertarik sampai melakukan hal-hal yang dianggap tabu oleh sebagian orang atau mungkin dianggap sebuah kelaziman oleh sebagian orang yang lain dalam kehidupan cinta remaja saat ini. Sementara, dalam hal kekerasan, film 17 tahun keatas ini menyajikan banyak adegan perkelahian massal antar kedua kelompok supporter. Kata-kata umpatan sering sekali diucapkan dalam film ini sehingga secara keseluruhan hendaknya penonton film ini bisa mengambil makna dari pesan yang disampaikan dalam film ini yaitu cinta kepada pasangan dapat berjalan bersama dengan kecintaan kepada klub favorit kita. Apalagi di era borderless world sekarang ini tidak ada lagi doktrinisasi. Generasi penerus bebas memilih teman hidup dan berbeda klub favorit dengan orang tua mereka. Cross-Culture Married baik antar suku, ras, negara, ras sudah mendapat tempat yang luas di masyarakat. Perbedaan tersebut diharapkan dapat mensinergikan kelebihan masing-masing dan dapat belajar memahami dan menerima perbedaan yang ada dalam diri masing-masing manusia.

Credit point tersendiri bagi film ini adalah adanya unsur komedi berupa lelucon-lelucon dari kedua belah pihak yang berseteru (gaya Jakarta dan Bandung) maupun terkait dengan keindahan wanita (mungkin saja juga dianggap sebagai unsur pemaknaan yang berlebihan dari kaum lak-laki kepada wanita sehingga timbul kesan lain). Lupakanlah faktor perseteruan jika Anda ingin menikmati lelucon-lelucon berkaitan dengan perbedaan budaya.

Applause dan selamat kepada Andi Bachtiar Yusuf saat selesainya film ini. Tidak ada titik akhir untuk sebuah kesuksesan, semoga film ini akan diikuti oleh film-film lain dengan tema sepakbola dan supporternya. Diam dan mengumpat hanya akan membelenggu idealisme. Keterbatasan scope cerita film ini semoga tidak dikesankan oleh penonton film ini sebagai sebuah keterwakilan sosok supporter Jakmania dan Viking secara keseluruhan. Selalu saja ada fraksi yang radikal dan moderat dalam sebuah kelompok.

Dukunglah klub anda secara sportif, setialah kemanapun mereka bertanding sampai mati tanpa mengorbankan hak orang lain.

Jangan lestarikan permusuhan karena terbukti telah menghilangkan kesempatan menemani klub dan menyuburkan kekerasan. Pada akhirnya provokatorlah yang akan tertawa lebar.

Selamat menonton dan mengkritisi film Romeo Juliet, yang akan diputar serentak di Bioskop 21 di seluruh Indonesia mulai tanggal Kamis 23 April 2009.

Tidak ada komentar: